Update Keracunan MBG : Menu Daging MBG Disorot Setelah Ratusan Siswa Alami Gejala Keracunan
- May 13, 2026
- Abdul Hakim Amrudin
SURABAYA – Insiden dugaan keracunan massal usai menyantap menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Surabaya dilaporkan meluas. Kepala Puskesmas Tembok Dukuh, drg. Tyas Pranadani, mengungkapkan bahwa jumlah siswa yang terdampak kini mencapai hampir 200 anak.
Seluruh korban diketahui berasal dari sekitar 12 sekolah dengan jenjang bervariasi, mulai dari TK, SD, hingga SMP. Menurut Tyas, sekolah-sekolah tersebut menerima distribusi makanan dari satu sumber yang sama, yakni sebuah dapur umum atau SPPG.
"Data sementara yang kami terima memang belum final karena masih ada laporan yang masuk dan proses pendataan ulang di lapangan. Namun, sejauh ini jumlahnya menyentuh angka hampir 200 siswa," ujar Tyas saat ditemui wartawan, Senin (11/5/2026).
Gejala klinis yang paling banyak dikeluhkan oleh para siswa adalah mual, muntah, serta pusing tak lama setelah mengonsumsi hidangan tersebut.
Sebagai langkah penanganan cepat, sekitar 100 siswa telah dirujuk ke Rumah Sakit IBI untuk mendapatkan observasi dan penanganan medis lebih lanjut. Sementara itu, siswa dengan keluhan lebih ringan ditangani secara langsung di Unit Kesehatan Sekolah (UKS) masing-masing maupun di Puskesmas Tembok Dukuh.
"Sebagian yang gejalanya ringan sudah kami tangani di sekolah, sebagian lagi datang langsung ke puskesmas," tambahnya.
Meski jumlah korban cukup masif, Tyas memastikan bahwa kondisi kesehatan seluruh siswa masih tergolong stabil. "Alhamdulillah, gejalanya rata-rata ringan. Banyak yang sudah diperbolehkan pulang dan sampai saat ini belum ada yang harus menjalani rawat inap," tegas Tyas.
Mengenai pemicu pasti dari insiden ini, pihak puskesmas bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya masih menunggu hasil uji laboratorium. Sampel makanan MBG yang dikonsumsi para siswa telah diamankan dan dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK).
Muncul dugaan sementara bahwa keluhan ini dipicu oleh menu olahan daging yang baru kali ini disajikan kepada para siswa. Meski demikian, pihak berwenang enggan berspekulasi lebih jauh.
"Penyebab pastinya masih dalam proses penyelidikan. Sampel makanan sudah kami ambil untuk diuji secara menyeluruh," pungkas Tyas.